Proses pembuatan kebijakan publik menurut Michael Howleet dan M. Ramesh dalam buku policy cycles and policy subsystems terdiri dari 5 tahap yang saling berkaitan satu sama lain. Dan kelima tahap tersebut yaitu :
1. Agenda setting
atau penetapan agenda
Tahap pertama ini,
mengacu pada proses dimana masalah menjadi perhatian pemerintah. Beberapa
tuntutan kepada pemerintah dari beberapa masalah publik datang dari aktor
internasional dan domestik, sedangkan yang lain diprakarsai oleh pemerintah
sendiri. Masalah-masalah ini berasal dari berbagai cara dan harus menjalani
proses yang rumit sebelum mereka dipertimbangkan secara serius untuk
penyelesaiannya.
Agenda
setting adalah tahap pertama dan mungkin tahap
paling kritis dari siklus kebijakan, berkaitan dengan proses-proses ini.
Menurut John Kingdon dalam penyelidikannya tentang masalah ini pada awal
1980-an memberikan definisi ringkas dari tahap ini :
“Agenda, seperti yang
saya bayangkan, adalah daftar subyek atau masalah yang berhubungan erat dengan
pejabat pemerintah, dan orang-orang di luar pemerintahan yang terkait dengan
para pejabat itu, memberikan perhatian serius pada waktu tertentu...”
Dari semua subjek atau
masalah yang mungkin diperhatikan oleh para pejabat, mereka justru benar-benar
memperhatikan beberapa daripada yang lain. Jadi proses penetapan agenda
mempersempit himpunan subjek yang dapat dipikirkan ini menjadi himpunan yang
benar-benar menjadi fokus perhatian. (Kingdon, 1984: 3-4).
Agenda
setting adalah sebuah fase dan proses yang sangat
strategis dalam realitas kebijakan publik. Karena dalam proses inilah ruang
untuk memaknai apa yang disebut sebagai masalah publik dan prioritas dalam
agenda publik dipertarungkan. Dalam proses ini, jika sebuah isu berhasil
mendapatkan status sebagai masalah publik, dan mendapatkan prioritas dalam
agenda publik, maka isu tersebut berhak mendapatkan alokasi sumber daya publik
yang lebih daripada isu lain.
Contohnya : Ada beberapa
masalah yang muncul di tengah-tengah masyarakat dan masuk kedalam agenda
setting, diantaranya :
a. Penyebaran
Virus Covid-19
b. Masalah
pengelolaan sampah
c. Masalah
stunting
Dalam agenda-setting, memilih salah satu
masalah yang mendapatkan prioritas karena memang memenuhi kriteria masalah yang
harus didahulukan. Misal dipilihlah dalam agenda setting ini masalah penyebaran
virus covid-19 sebagai masalah publik dan mendapatkan prioritas dalam agenda
publik, maka masalah tersebut berhak mendapatkan alokasi sumber daya publik
yang lebih daripada isu lain.
2. Policy formulation
atau perumusan kebijakan
Tahap kedua ini mengacu
pada bagaimana opsi kebijakan dirumuskan dalam pemerintah. Setelah pemerintah
mengakui adanya masalah publik dan kebutuhan untuk melakukan sesuatu tentang
hal itu, pembuat kebijakan perlu memutuskan beberapa tindakan. Merumuskan
tindakan seperti itu adalah tahap kedua dalam siklus kebijakan yaitu perumusan
kebijakan.
Seperti yang diamati oleh
Charles Jones (1984: 7), karakteristik pembeda dari perumusan kebijakan adalah
sederhana yang dimaksudkan untuk menyelesaikan persepsi seseorang tentang
kebutuhan yang ada di masyarakat. Perumusan kebijakan karenanya melibatkan
penilaian possiblesolutions untuk masalah kebijakan atau mengeksplorasi
berbagai opsi yang tersedia untuk mengatasi masalah.
Proses menentukan,
mempertimbangkan, dan menerima atau menolak opsi-opsi ini adalah substansi
tahap kedua dari siklus kebijakan. Formulasi kebijakan merupakan sebuah
aktivitas yang dilakukan setelah sebuah masalah didefinisikan dan ditetapkan
sebagai masalah publik, yang selanjutnya memperoleh prioritas dalam agenda
pemerintah untuk ditindak lanjuti melalui sebuah penyusunan kebijakan.
Formulasi kebijakan dengan demikian merupakan
aktivitas mencari, merancang, dan mendefinisikan solusi terhadap suatu
masalah publik yang telah diakui oleh pemerintah. Solusi apa pun yang muncul
dari kegiatan formulasi kebijakan, setelah diadopsi (policy adoption), solusi tersebut kemudian menjadi kebijakan publik
yang digunakan untuk mengatasi masalah publik.
Contoh :Dari beberapa
masalah dalam agenda setting telah dipilih penyebaran virus covid-19 menjadi
masalah publik, maka dalam tahap policy
formulation, dibuatkanlah beberapa kebijakan untuk menjadi solusinya. Misal
yaitu:
a. Merencanakan
lockdown
b. Merencanakan
PSBB
c. Merencanakan
sosial distancing
d. Membentuk
satgas covid-19
3. Decision making
atau pengambilan keputusan
Proses dimana pemerintah
mengadopsi tindakan tertentu atau tidak. Tahap pengambilan keputusan dari
proses kebijakan adalah dari mana muncul beberapa pernyataan formal atau
informal pada pihak aktor publik yang berwenang untuk melakukan, atau menahan
diri dari melakukan, beberapa tindakan (O'Sullivan dan Down, 2001).
Gary Brewer dan Peter
DeLeon (1983: 179) mencirikan keputusan itu membuat tahapan proses kebijakan
publik sebagai: pilihan di antara alternatif kebijakan yang telah dihasilkan
dan kemungkinan dampaknya terhadap masalah yang diperkirakan. . . .
Beberapa poin penting pada
tahap pengambilan keputusan dari siklus kebijakan yaitu :
a. Pengambilan
keputusan bukanlah tahap yang mandiri, juga tidak identik dengan seluruh proses
pembuatan kebijakan publik. Sebaliknya, ini adalah tahap spesifik yang berakar
kuat pada tahap-tahap sebelumnya dari siklus kebijakan. Ini melibatkan memilih
di antara sejumlah kecil pilihan kebijakan alternatif, seperti yang
diidentifikasi dalam proses perumusan kebijakan, untuk menyelesaikan masalah
publik.
b. Menyoroti
fakta bahwa berbagai jenis keputusan dapat dihasilkan dari proses pengambilan
keputusan.
c. Menggarisbawahi
poin bahwa pengambilan keputusan kebijakan publik bukanlah latihan teknis
tetapi proses politik yang inheren.
Contoh
: Dari berbagai alternatif yang ada, pemerintah mengambil keputusan untuk
mengatasi penyebaran virus corona yaitu dengan penerapan PSBB dan pembentukan
satgas covid-19.
4. Policy Implementation
atau mplementasi kebijakan
Berkaitan dengan
bagaimana pemerintah memberlakukan kebijakan. Setelah masalah publik muncul
dalam agenda kebijakan, berbagai opsi telah diusulkan untuk menyelesaikannya,
dan pemerintah telah membuat beberapa pilihan di antara opsi-opsi itu, yang
tersisa adalah mempraktikkan keputusan tersebut. Ini adalah tahap implementasi
kebijakan dari siklus kebijakan, di mana keputusan kebijakan diterjemahkan ke
dalam tindakan. Ini didefinisikan sebagai proses di mana program atau kebijakan
dilakukan, terjemahan rencana menjadi praktik. Sementara beberapa keputusan
telah dibuat pada bentuk umum dari suatu kebijakan, masih ada yang lain yang
diperlukan untuk itu digerakkan. Pendanaan harus dialokasikan, personel
ditugaskan, dan aturan prosedur dikembangkan.
Contoh : Keputusan yang diambil oleh pemerintah yaitu
penerapan PSBB dan Pembentukan Satgas Covid-19, lalu di laksanakan dengan:
a. Penerapan
PSBB dilaksanakan oleh aetiap daerah atas persetujuan pemerintah pusat
b. Membentuk
satgas covid-19 dari tingkat nasional hingga daerah-daerah
5. Policy evaluation
atau evaluasi kebijakan
Mengacu pada proses di
mana hasil kebijakan dipantau oleh aktor negara dan masyarakat, yang hasilnya
dapat menjadi rekonseptualisasi masalah dan solusi kebijakan. Setelah kebutuhan
untuk mengatasi masalah publik telah diakui, berbagai solusi yang mungkin telah
dipertimbangkan, dan beberapa di antaranya telah dipilih dan dipraktikkan,
pemerintah sering menilai bagaimana kebijakan itu bekerja. Pada saat yang sama,
berbagai anggota yang tertarik pada subsistem kebijakan dan publik terlibat
dalam penilaian mereka sendiri tentang cara kerja dan dampak kebijakan tersebut
untuk mengekspresikan dukungan atau oposisi terhadap kebijakan tersebut, atau
untuk menuntut perubahan terhadapnya. Konsep evaluasi kebijakan dengan demikian
merujuk secara luas ke tahap proses kebijakan di mana ditentukan bagaimana
kebijakan publik benar-benar bernasib dalam tindakan. Ini melibatkan evaluasi
sarana yang digunakan dan tujuan yang dilayani.
Seperti yang
didefinisikan oleh Larry Gerston (1997: 120), "evaluasi kebijakan menilai
efektivitas kebijakan publik dalam kaitannya dengan niat dan hasil yang
dirasakan.
Contoh : setelah beberapa daerah menerapkan PSBB ternyata ada penurunan masyarakat yang terkena virus covid-19, maka daerah lain pun dianjurkan untuk segera menerapkan PSBB. Kemudian ternyata pembentukan satgas covid-19 bagi sebagian daerah cukup efektif, akan tetapi untuk daerah lain malah tidak berjalan dan terkesan seperti tidak ada, maka perlu ada tindakan terhadap daerah tersebut.
Sumber : Howlett, Michael & M. Ramesh. 2003. Studying Public Policy, Policy Cycles and Policy Subsystems, 2ed. New York. Oxfor University.
Komentar
Posting Komentar