Tulisan ini akan membahas beberapa kriteria pemilihan alternatif kebijakan yang baik dan tepat serta contoh proses pemilihan alternatif kebijakan berdasarkan kriteria tersebut. Karena kebijakan publik yang baik, dikembangkan dari banyak alternatif kebijakan yang dilakukan pada saat tahap formulasi kebijakan. Pemilihan alternatif kebijakan yang tepat atau terbaik merupakan proses penilaian atas alternatif yang ada untuk selanjutnya dipilih yang terbaik. Menilai alternatif merupakan kegiatan memberi bobot pada masing-masing alternatif.
Menurut Quade (1982) tahap ini merupakan
tahap yang sangat vital karena akan menentukan apakah pilihan kebijakan yg
diambil betul-betul implementable dan
dapat mengatasi masalah.
Kriteria yg dipakai adalah seberapa jauh
alternatif dapat dilaksanakan dan diterima oleh semua pihak. Bardach dalam Patton & Sawicki (1993) mengemukakan beberapa kriteria
dalam memilih alternatif, yaitu :
A.
Technical feasibility
Kriteria ini menentukan
alternative kebijakan yang tepat dengan mengukur apakah secara tekhnis
alternatif yang akan dipilih bisa dilaksanakan. Technical feasibility
mempunyai dua sub kriteria, yaitu :
1)
Effectiveness,
menentukan kebijakan yang tepat dengan melihat derajad pencapaian tujuan, baik
tujuan jangka pendek atau jangka panjang, tujuan langsung atau tujuan tidak
langsung, tujuan kuantitatif atau kualitatif, dan tujuan yang pantas atau tidak
pantas.
2)
Sub Kriteria Adequacy,
menentukan alternative kebijakan yang tepat dengan melihat seberapa jauh
alternatif mampu memecahkan masalah, baik secara keseluruhan atau sebagian. Hal
Ini untuk melihat tingkat efektivitasnya, kapan tercapainya dan sebagainya.
Contoh
formulasi kebijakan New Normal dilihat dari kriteria ke efektivan dan
adequacynya dibandingkan dengan kebijakan lain (PSBB, Lockdown, dll). New
Normal dipandang lebih efektif dibandingkan dengan kebijakan lain, karena saat
ini tujuan pemerintah selain untuk menjaga kesehatan masyarakat, juga ingin
menjaga kestabilan ekonomi dan mengembalikan lagi situasi ke keadaan yang
normal. Maka kebijakan New Normal lebih efektif diterapkan dibanding kebijakan
lain.
B. Political viability
Mempersoalkan berbagai kriteria
politik yg harus diperhitungkan. Kriteria ini dibagi dalam 5 sub kriteria yaitu
:
1) Aseptabilitas, berkaitan dengan apakah alternatif dapat diterima baik oleh aktor
maupun masyarakat,
2) Appropriteness, berkaitan dengan apakah alternatif bertentangan dengan nilai atau dapat
merusak nilai yang ada dalam masyarakat,
3) Responsiveness, berkaitan dengan apakah alternatif dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
sehingga tingkat responsivitas masyarakat menjadi tinggi karena dirasakan
manfaatnya oleh masyarakat.
4) Legal, dalam hal ini
berkaitan dengan apakah alternatif tidak bertentangan dengan pertauran
sebelumnya yg dapat membingungkan dalam pelaksanaan.
5) Equity, apakah
alternatif dapat memenuhi rasa keadilan baik antar lokasi pemukiman, suku dan
etnik, jenis kelamin, dan sebagainya.
Contohnya New Nermal, yang sejauh ini dapat
diterima oleh sebagian besar kalangan, walaupun di daerah-daerah yang masih
zona merah belum dapat diterapkan sepenuhnya. Kemudian Alternatif New Normal
tidak bertentangan dengan nilai lain, karena tetap menerapkan protokol
kesehatan Covid 19 dan pemberlakuan hidup normal secara bertahap. Sehingga
diharapkan bisa menjadi solusi bagi perbaikan ekonomi masyarakat dan
pengembalian kehidupan normal masyarakat, dengan tetap menerapkan protokol
Covid 19. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa Kebijakan New Normal memenuhi
kriteria political viability.
C. Econopmic and financial possibility
Kriteria ini berkaitan dengan ukuran-ukuran ekonomi. Terdiri beberapa sub
kriteria, yaitu :
1) Change in networth, mempersoalakan apakah alternatif kebijakan dapat merubah kemampuan
ekonomi, seperti GDP, perubahan dalam human capital, non human resources (hasil
sumber daya alam)
2) Profitability, mempersoalakan seberapa jauh keuntungan secara ekonopmi akan
diperoleh
3) Cost effectiveness, berkaiatn dengan persoalan biaya yang dikeluarkan. Apakah tujuan dapat
dicapai dengan biaya seminimal mungkin
4) Economic efficiency, menunjuk pada tingkat efisiensi antara penggunaan sumber daya dengan
manfaat yang diperoleh.
Contoh, formulasi kebijakan New Normal saya rasa
memenuhi kriteria Econopmic and financial
possibility, karena selain tetap mengedapankan aspek penanganan kesehatan
Covid 19, kebijakan ini dibuat untuk mengatasi masalah perekonomian masyarakat
dan negara yang semakin tidak stabil. Diharapkan sector ekonomi dapat kembali
beroperasi, walupun secara bertahap. Dan tentunya akan memberikan dampak
terhadapak perekonmian secara umum di masyarakat dan terhadap perekonomian
negara.
D. Administrative operability
Menitik beratkan aspek administratif dalam pelaksanaan kebijakan
nantinya. Beberapa sub kriteria :
1) Authority, berkaitan
dengan kejelasan otoritas untuk pelaksanaannya.
2) Institutional commitment
3) Capability, berakitan dengan skill, pengalaman,
dana yang dimiliki oleh pelaksana kebijakan
4) organizational support, misalnya berkaktan dengan
fasilitas yang dimilik untuk mendukung pelaksanaan kebijakan yang dipilih.
Contoh formulasi New Normal ini di barengi dengan
pembuatan rencana tahapan pemberlakuan New Normal, yaitu fase 1 pada bulan 1
Juni 2020, Fase II pada 8 Juni 2020, Fase III pada15 Juni 2020, Fase IV pada 6
Juli 2020, dan Fase V pada 20 & 27 Juli 2020. Adanya tahapan atau fase
pemberlakuan New Normal menurut saya salah satu bentuk kejelasan pelaksanaan,
komitmen lembaga dalam melaksanakannya, dan kemampuan pelaksana kebijkan serta
salah satu bentuk dukungan untuk mensukseskan pelaksanaan New Normal. Dengan
demikian, formulasi kebijkan New Normal memenuhi kriteria Administrative operability.
Sumber : Bardach dalam Patton & Sawicki (1993)
Komentar
Posting Komentar